Sabtu, 06 November 2021

Berfikir Kritis Terhadap Isu Pemerintahan

Kritis itu apasi? Emang beda ya sama Apatis? 

        Arti dari kritis sendiri adalah berpikir logis dan sistematis dalam membuat keputusan atau menyelesaikan sebuah permasalahan, ada yang tau ga apatis itu apa? nih saya jelasin apatis itu sikap tak acuh atau tidak peduli terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekitar kaya rendahnya simpati dan antusiasme gitu.

Jadi dari pengertian kritis dan apatis ini saya mau bahas tentang frame berpikir secara kritis dan apatis nih guys, kita sebagai anak muda harus banget jadiin berpikir kritis menjadi frame berpikir kepentingan umum karna apa perlunya kemampuan berpikir kritis bagi generasi muda yang terjebak dalam era digital agar mampu mencari tau informasi yang valid maupun hoax mengenai isu isu penting di negara kita tercinta, selain itu juga kalau kita berpikir kritis kita bisa menyampaikan pendapat maupun argumen berdasarkan informasi yang valid tersebut dengan cara yang persuasive namun juga masih beretika.

Menurut saya frame berpikir masyarakat sekarang nih lebih ke apatis sih kita ambil contoh dari pemilu aja banyak banget tuh yang golput tindakan itu udah mencerminkan banget gamau turut berpartisipasi dalam proses politik yang ada di Indonesia, di circle pertemanan saya pun kalau soal politik mereka apatis soalnya banyak sisi kontra yang mereka dapet dari sistem pemerintahan Indonesia sekarang mereka lebih ke acuh gitu dan jujur saya juga muak banget kalau udah bahas politik gaada ujungnya misal kita berpikir secara kritis untuk nemuin satu jawaban yang benar misal kita memilih pemimpin dengan cara mencari tau semuanya, mendalami visi misi dia dalam berkampanye.

Aspek-aspek sistem pemerintahan yang dia buat untuk kedepannya setelah mendapat jawaban dan kita memilih ehh setelah menjabat kita ditampar oleh ekpetasi kita tentang orang yang kita pilih menjadi seorang pemimpin itu, visi misi hanya ilusi semata semua janji tinggal janji ternyata bener yaa berharap ama manusia itu bikin kecewa wkwkwk.

Disini saya mikir ternyata berpikir kritis juga ga menjamin sistem pemerintahan sesuai ekpetasi kita, ga menjamin suara kita di dengar. Ini yang bikin kita sebagai generasi muda bingung lebih mau mikir kritis apa tetep apatis ya? Politik di Indonesia abu abu si menurut saya susah di tebak banget kaya nasib kehidupan aja.

Padahal negara kita itu negara demokrasi yang berarti pemerintahan rakyat tapi gimana mau demokrasi suara rakyat aja ga di denger.Berpikir apatis menurut saya hal yang gabaik juga sih karena acuh sama sistem pemerintahan tapi gimana kita ga apatis kalau para pemerintah nya masih memberi harapan palsu disuruh sehat di negara yang sakit hadehh..

Tapi jangan karna pemerintah yang php kita jadi apatis terus guys kita harus tetep berpikir kritis dalam permasalahan apapun bukan tentang politik aja tapi dalam segi aspek pemikiran dan persoalan mengenai apapun kita harus berfikir secara kritis biar dapet jawaban dan penyelesaian yang akurat dan tepat.

Dari tadi bahas apatis terus mending kita bahas nih manfaat dari berpikir secara kritis diantaranya menjadi lebih open-minded, gampang banget nyelesain masalah, meminimalkan salah presepsi, bisa tau kemampuan diri, mampu berkomunikasi lebih baik dan ga gampang di manfaatin orang lain.

Banyak banget manfaat dari berpikir kritis terutama manfaat buat diri kita sendiri guys jadi kalau di bandingin sama apatis sih emang lebih untung berpikir kritis tapi jangan terlalu ambis banget yaa takut nya hilang moral menghargai pendapat orang lain dan terlalu percaya diri, pengalaman saya ketemu sama anak seumuran saya yang berpikir kritis itu dia saking berpikir kritis banget sampe terlalu percaya diri dan ngerasa apa yang dia sampein itu bener istilahnya merasa paling bener lah gitu.

Yuk kita sama sama belajar berpikir secara kritis untuk kehidupan kita dan masa depan negeri kita yang tercinta ini, jujur si saya kalau bahas sistem politik di Indonesia ini males banget karna apa yang tadi saya bilang di atas gaada ujungnya dan abu abu banget yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin indonesia tuh bukan kekurangan orang pintar tapi kekurangan orang jujur kalau bahas soal kejujuran pemerintah ga cukup 100 lembar untuk bahas.

Harapan saya untuk Indonesia kedepannya semoga berpikir secara kritis bisa di jadikan frame berpikir kepentingan umum semoga banyaknya orang yang jujur meningkat semoga semua masyarakat semakin makmur dan sejahtera Aaminn ini saya kebanyakan semoga tersemogakan Aamiin, eh tapi saya belom singgung sifat sifat apatis tuh kaya gimana dan dampaknya bagi kita nah misal dampak bagi karir kita kita jadi terlalu narsis atau terlalu menjunjung timggi diri sendiri, gak jujur, pesimis nah itu beberapa dampak apatis dalam karir kita nanti so buat kalian semua yu belajar berpikir kritis demi kepentingan kita bersama saya juga bakal belajar juga ko karna jujur saya juga sering banget berpikir apatis yu kita sama sama belajar semangat semoga pempimpin selanjutnya generasi kita yang amanah dan dapat di percaya.

Berpikir Kritis agar Tak Terjebak Hoax saat Wabah

    Pada masa wabah Covid-19, banyak informasi yang beredar di masyarakat. Benar atau tidaknya informasi tersebut harus disikapi dengan berpikir kritis. Tujuannya agar tidak terjebak dengan informasi hoaks/bohong.

Menteri Sekretaris Negara, Pratikno menyebut, tidak semua informasi yang beredar sesuai dengan fakta. "Informasi yang banyak saling mencuri perhatian masyarakat, entah itu benar atau salah. Masyarakat memerlukan penyaring. Kalau berdasarkan hemat saya, penyaring tersebut adalah berpikir kritis," ujar Pratikno. 

Pratikno ikut rembuk dalam bincang-bincang Iqro: Membaca Dinamika Zaman dari Beragam Perspektif, Minggu (10/5) malam, menyambut malam Nuzulul Quran sekaligus soft launching Masjid Kampus UGM, Mardliyyah. 

Di acara yang dilangsungkan secara daring tersebut, Menteri BUMN, Erick Tohir menyampaikan, pemerintah sekarang telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan bangsa ini. Namun, di sisi lain, pemerintah menjaga agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat. Pemerintah pun berupaya menggaet berbagai institusi, termasuk perguruan  tinggi, untuk bersama-sama menaggulangi Covid-19.

"Kami sudah memberi arahan-arahan apa yang harus dilakukan, tinggal bagaimana mereka mematuhinya," kata dia.

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian/Aktivis, Alissa Qotrunnada Munawaroh atau dikenal Alissa Wahid mengatakan, berpikir kritis penting untuk memilah informasi. Ia pun mengingatkan, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Iqra, yang artinya adalah bacalah. 

"Masyarakat perlu membaca. Membaca dinamika zaman, melalui literatur-literatur penting untuk menyesuaikan diri dengan konteks situasi yang sedang mereka hadapi," kata dia.

Terkait pandemi Covid-19, Alissa berharap, masyarakat perlu melakukan perubahan perilaku dan pola pikir. Selain itu, Alissa pun menyarankan, pemerintah fokus pada inovasi penanggulangan Covid-19 dan gencar mengedukasi masyarakat terkait kebijakan-kebijakan yang dibuat. 

"Anjuran-anjuran seperti social distancing, work from home, serta larangan mudik, pemerintah perlu melakukan upaya-upaya edukasi yang masif dan tegas kepada masyarakat," kata dia.

Rektor UGM, Prof Panut Mulyono melengkapi, UGM telah mengarahkan para akademisinya melakukan edukasi dan turun ke lapangan selama pandemi ini. "Kami siap membanjiri arus informasi masyarakat dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat," kata dia. 

Pihaknya pun akan selalu terbuka jika pemerintah ingin bekerja sama dalam upaya penanggulangan Covid-19 ini agar pandemi bisa segera dilewati. (OL-3)

Sumber: 
https://www.pelitabanten.com/117753/2021/09/30/berpikir-kritis-bukan-apatis/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ketahanan Nasional

Ketahanan Nasional Ketahanan Nasional adalah kondisi yang harus dimiliki dalam semua aspek kehidupan bermasyarkat, berbangsa, dan bernegara ...